Sangatta News — Delegasi sektor pangan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi menginjakkan kaki di perhelatan akbar Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII Tahun 2026. Kehadiran kontingen “Tuah Bumi Untung Benua” ini dikawal langsung Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, bersama sang istri, Masriati, yang bergabung dalam delegasi besar Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Bagi Mahyunadi, kehadiran peserta dari Kutim dalam PENAS KTNA XVII memiliki arti strategis yang jauh lebih penting daripada sekadar menghadiri agenda lima tahunan seremonial. “Ini adalah kesempatan berharga untuk menyerap pengalaman dari daerah lain yang telah berhasil mengembangkan inovasi dan teknologi pertanian,” ujar Mahyunadi di tengah kemeriahan acara.

Ia berharap, sepulangnya dari Gorontalo, para petani, nelayan, dan penyuluh asal Kutim mampu mengadopsi ilmu serta teknologi terbaru tersebut untuk langsung diterapkan di lahan-lahan pertanian lokal Kutai Timur.

Gemuruh tepuk tangan dari ribuan peserta menggema memenuhi Gelanggang Olahraga David-Tonny, Kota Gorontalo, Sabtu (20/06/2026), saat Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, secara resmi membuka jalannya yang mengusung tema “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Hilirisasi dan Swasembada Pangan Berkelanjutan Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045”.

Event akbar yang mempertemukan para pahlawan pangan se-Nusantara ini dihadiri sekitar 9.000 peserta yang terdiri dari petani, nelayan, penyuluh, hingga pelaku agribisnis dari Aceh hingga Papua. Ruang belajar raksasa ini dijadwalkan berlangsung selama enam hari, mulai tanggal 20 hingga 25 Juni 2026.

Suasana pembukaan PENAS KTNA XVII berlangsung sangat semarak dan estetik. Arena kegiatan dipenuhi warna-warni aneka busana adat dari berbagai penjuru daerah, menampilkan mozaik kebudayaan Nusantara yang memukau.

Kolaborasi pertunjukan seni budaya, sorak-sorai yel-yel kontingen, serta antusiasme tinggi dari ribuan undangan yang hadir menciptakan atmosfer yang hangat. Momentum ini sekaligus membangkitkan kembali keyakinan kolektif bahwa sektor pertanian dan perikanan tetap menjadi tiang penyangga utama sekaligus jangkar masa depan ekonomi bangsa Indonesia, termasuk bagi daerah berkembang seperti Kutai Timur.