Sangatta News — Langkah besar untuk memetakan urat nadi perekonomian di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi digulirkan. Mengusung tema “Sinergi Penguatan Ekonomi Indonesia”, pencanangan Sensus Ekonomi (SE) 2026 ditandai secara simbolis dengan pelepasan balon ke udara di kawasan Polder Ilham Maulana, Jalan Dayung, Sangatta, pada Selasa (30/6/2026).
Agenda masif sepuluh tahunan ini menjadi instrumen krusial bagi Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menghadirkan basis data yang akurat. Data ini nantinya akan menjadi fondasi utama dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan tepat sasaran di Kutim.
Acara peluncuran tersebut dihadiri oleh lebih dari 100 peserta, mulai dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran perangkat daerah, camat, lurah, hingga kepala desa se-Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.
Dinamika ekonomi hari ini telah berubah drastis dibandingkan satu dekade lalu. Kepala Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan (Disnaker) Kutim, Sulisman, yang hadir mewakili Bupati Kutai Timur, menekankan bahwa sensus ini bukan sekadar rutinitas statistik di atas kertas.
“Sensus Ekonomi menjadi instrumen utama untuk memotret kondisi riil dunia usaha,” ujar Sulisman. “Saat ini, aktivitas usaha tidak lagi hanya dijalankan melalui toko fisik maupun industri konvensional. Banyak pelaku usaha yang berkembang dari rumah, memanfaatkan media sosial, hingga marketplace digital.”
Perubahan pola konsumsi masyarakat, menjamurnya ekonomi kreatif, serta adopsi teknologi finansial seperti pembayaran non-tunai (QRIS, mobile banking, dan dompet digital) merupakan fenomena nyata yang wajib direkam secara komprehensif. Pemerintah memerlukan potret akurat ini agar kebijakan yang dilahirkan nantinya tetap relevan dengan tuntutan zaman.
Kepala BPS Kabupaten Kutai Timur, Widiyantono, mengibaratkan hajatan besar ini sebagai rekam medis menyeluruh bagi kesehatan ekonomi nasional. “Sensus Ekonomi merupakan general check-up kondisi ekonomi Indonesia,” kata Widiyantono.
Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, ini merupakan Sensus Ekonomi kelima yang digelar di Indonesia. Hasil dari sensus ini dipastikan akan membawa dampak besar bagi berbagai lini.
Bagi pemerintah hasil sensus ini menjadi kompas utama untuk memetakan sektor mana yang sedang berkembang, sektor yang sekarat dan butuh stimulus, peta persebaran UMKM, hingga proyeksi investasi serta penciptaan lapangan kerja. Sementara bagi pelaku usaha, menyediakan data valid untuk membaca potensi pasar yang belum tergarap, dinamika kompetisi, serta peluang ekspansi bisnis yang lebih terukur.
Skala pendataan lapangan Sensus Ekonomi 2026 ini berjalan sangat masif. Secara nasional, sensus serentak dilakukan di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota.
Khusus di wilayah Kabupaten Kutai Timur, berikut adalah detail kekuatan operasi yang dikerahkan di lapangan:
| Komponen Pendataan | Cakupan & Kekuatan Operasi |
| Garis Waktu Lapangan | Sudah dimulai sejak 15 Juni dan akan berakhir pada 31 Agustus 2026. |
| Cakupan Wilayah | Menyisir seluruh desa yang tersebar di 18 kecamatan di Kutim. |
| Total Petugas Lapangan | Menerjunkan 322 petugas statistik terlatih. |
| Komposisi Petugas | Terdiri atas 278 Petugas Pendata Lapangan (PPL) dan 44 Petugas Pemeriksa Lapangan (PML). |
| Target Objek Pajak/Usaha | Seluruh jenis usaha (kecil, menengah, besar), pedagang keliling, toko konvensional, usaha daring (online), baik yang berbadan hukum maupun informal. |
Dengan diterjunkannya ratusan petugas ini, BPS Kutim mengimbau seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk memberikan jawaban yang jujur dan terbuka demi kesuksesan pemetaan ekonomi daerah.


Tinggalkan Balasan