Sangatta News — Di balik lanskap perbukitan hijau dan hamparan lahan pertanian subur Desa Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang, denyut nadir ketahanan pangan sejati Kutai Timur terasa sangat nyata. Bukan lewat pidato normatif atau deretan jargon pembangunan di atas kertas, melainkan dari gemerisik bulir padi yang dipetik langsung oleh jemari legam para petani.

Melalui Pesta Panen yang digelar oleh Kelompok Tani Malawai Kanaan Sejahtera pada Jumat (12/06/2026), desa ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru daerah: di tengah gempuran perubahan iklim yang ekstrem, gejolak ekonomi, dan ketidakpastian pasokan pangan dunia, desa adalah benteng pertahanan terakhir yang paling kokoh.

Hadir langsung di tengah-tengah hamparan padi yang menguning, Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, memberikan apresiasi mendalam terhadap konsistensi para petani lokal. Menurutnya, konstelasi global saat ini menuntut setiap wilayah—hingga ke tingkat desa—untuk mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan luar.

“Ketahanan pangan bukan hanya urusan pemerintah di atas meja, tetapi hasil keringat para petani yang setiap hari mengolah tanah. Di tengah perubahan iklim dan kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu, peran petani menjadi penyangga utama kestabilan sosial dan ekonomi masyarakat,” tegas Mahyunadi.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemkab Kutim berjanji akan terus mengguyur sektor pertanian dengan stimulus strategis. Mahyunadi menegaskan bahwa Pemkab Kutim akan terus memberikan perhatian terhadap sektor pertanian. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur penunjang, peningkatan kapasitas petani, serta berbagai program yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat tani.

“Kalau pangan tersedia, masyarakat tenang, dan pembangunan daerah bisa berjalan dengan baik. Profesi petani layak memperoleh penghargaan yang setara dengan kontribusinya,” tambah Wabup.

Di balik meriahnya suasana syukur pesta panen, para petani menyadari ada bayang-bayang tantangan besar yang terus mengintai, mulai dari anomali cuaca hingga dinamika harga pupuk yang fluktuatif. Ketua Kelompok Tani Malawai Kanaan Sejahtera, Barnabas Jejer, mengungkapkan bahwa keberhasilan panen tahun 2026 ini merupakan buah manis dari kedisiplinan kolektif seluruh anggotanya.

“Kami sadar tantangan ke depan semakin besar karena faktor cuaca yang sulit diprediksi. Namun, kami berkomitmen untuk tidak berhenti menanam demi menjaga ketersediaan pangan masyarakat,” kata Barnabas.

Agar swasembada pangan di Desa Tepian Terap tidak bersifat musiman, Barnabas menitipkan harapan besar kepada Pemkab Kutim. Sektor pertanian lokal membutuhkan pendampingan penyuluh yang konsisten, kepastian sarana produksi, dan pemenuhan akses teknologi.

Lebih jauh, Barnabas menekankan pentingnya isu regenerasi petani di pedesaan Kutim. Pertanian di pedesaan harus ditransformasikan menjadi sektor usaha yang modern, mandiri, dan menjanjikan secara ekonomi. Modernisasi penting agar generasi muda (milenial dan Gen Z) di Kutim tertarik untuk terjun langsung mengolah lahan, alih-alih berbondong-bondong mengadu nasib ke sektor industri perkotaan atau tambang.

Dari petak-petak lahan Malawai yang digarap dengan ketekunan, dari tangan-tangan yang saban hari bergelut dengan tanah, kemandirian pangan Kutai Timur menemukan maknanya yang paling hakiki. Tumbuh subur dari kerja kolektif masyarakat desa, untuk masa depan Kutim yang berdaulat.