Sangatta News – Sebuah prestasi membanggakan kembali lahir dari ruang kelas di pinggiran Sangatta Utara. Sahari Nor Wakhid, seorang guru dari SMP Negeri 5 Sangatta Utara, membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk merajai panggung literasi nasional.
Dalam ajang bergengsi Festival Literasi Nasional (FLN) 2026 yang dihelat oleh Nyalanesia di Kota Surakarta, Jawa Tengah pada 22–24 Mei 2026, Sahari sukses memborong dua penghargaan sekaligus. Tidak tanggung-tanggung, ia berhasil membawa pulang trofi Juara 1 Adi Acarya Awards kategori Karya Terbaik serta Juara 3 kategori Produktivitas Berkarya.
Pencapaian luar biasa ini sekaligus mempertajam rekam jejak digitalnya setelah pada tahun sebelumnya ia berhasil menduduki podium Juara 2 tingkat nasional dalam kompetisi serupa.
Bagi Sahari, kemenangan di Surakarta bukanlah sebuah kebetulan yang hadir dalam semalam. Di balik piala yang ia genggam, ada kedisiplinan tingkat tinggi seorang pendidik yang memandang menulis sebagai sebuah tanggung jawab moral.
Di tengah kesibukan mengajar, Sahari merawat konsistensi dengan menetapkan target pribadi yang cukup ambisius di era digital ini: menerbitkan minimal dua buku setiap tahun.
“Setiap karya akan menemukan takdirnya sendiri. Bisa saja hanya dibaca, menjadi pencerahan bagi orang lain, atau bahkan diapresiasi sebagai karya terbaik. Tugas saya sebagai guru dan sebagai manusia adalah terus berkarya,” ujar Sahari dengan filosofis.
Kiprah Sahari tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas tempatnya mengajar atau di meja ketiknya sendiri. Ia secara aktif menularkan virus membaca dan menulis ini ke seluruh penjuru Kabupaten Kutai Timur melalui berbagai peran strategis. Ia menakhodai Komunitas Belajar ETAM Kutim untuk periode 2023–2026 dan rutin dilibatkan oleh pemerintah daerah sebagai juri tingkat kabupaten dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
FLN yang diikuti oleh Sahari merupakan puncak dari program tahunan berskala nasional yang dirancang khusus untuk memperkuat ekosistem literasi di lingkungan sekolah. Melalui seleksi ketat bertahap dari proses pendampingan hingga penerbitan, karya Sahari berhasil menyisihkan ribuan karya guru lain dari seluruh penjuru Indonesia.
Keberhasilan Sahari Nor Wakhid menjadi oase segar di tengah kekhawatiran global mengenai penurunan minat baca di kalangan generasi muda. Perjalanannya membuktikan bahwa budaya literasi sejati tidak tumbuh dari riuh publisitas sesaat, melainkan dari ketelatenan seorang guru di daerah.
Dari ruang belajar sederhana di Sangatta Utara, Sahari telah menembus batas, membawa nama Kutai Timur bersinar di panggung nasional, sekaligus membuktikan bahwa di tangan guru yang tepat, sekolah tetap menjadi tapal batas harapan bagi pembangunan peradaban bangsa.


Tinggalkan Balasan