Sangatta News — Memasuki puncak musim panen raya pada Agustus dan September ini, Dinas Ketahanan Pangan (Diskepang) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bergerak cepat memasang kuda-kuda. Langkah intervensi disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan produksi padi lokal—khususnya dari lumbung pangan di Kecamatan Kaubun—agar seluruh hasil jerih payah petani dapat terserap pasar secara optimal tanpa menjatuhkan harga jual.

Potensi panen melimpah ini dinilai sebagai peluang emas sekaligus tantangan besar dalam tata kelola pascapanen. Jika tidak ditangani dengan strategi distribusi yang tepat, risiko penurunan mutu gabah hingga penumpukan stok yang memicu anjloknya harga di tingkat petani bisa saja terjadi.

Kepala Diskepang Kutim, Dyah Ratnaningrum, menegaskan bahwa fokus utama jajarannya saat ini difokuskan pada penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir serta penanganan teknis Gabah Kering Panen (GKP).

“Kami harus mengatasi bagaimana caranya agar hasil panen melimpah ini terserap pasar secara menyeluruh. Hal ini termasuk penanganan tepat terhadap gabah kering panen agar mutu dan kualitas beras lokal kita tetap terjaga di level tertinggi,” ujar Dyah.

Kecamatan Kaubun kembali membuktikan dirinya sebagai kawasan sentra produksi padi paling potensial di Kutai Timur. Puncak volume panen yang terpusat di kawasan ini memerlukan perhatian dan pengawasan khusus agar fasilitas pengeringan (drier) serta penggilingan bekerja maksimal.

Dyah menjelaskan bahwa menjaga standar mutu beras lokal merupakan kunci utama agar komoditas beras Kutim mampu bersaing ketat dengan beras pasokan luar daerah.

Guna memastikan alur distribusi berjalan mulus tanpa hambatan, Diskepang Kutim membangun jaringan koordinasi dengan para pelaku usaha logistik dan pedagang bahan pokok di daerah. Strategi ini diambil untuk memangkas rantai pasok yang panjang, sehingga beras hasil panen petani Kutai Timur bisa langsung diserap oleh pasar domestik maupun kebutuhan konsumsi masyarakat luas.

Pemerintah daerah berkomitmen agar tingginya angka produksi padi tidak hanya menjadi catatan statistik manis, tetapi benar-benar berdampak langsung pada kesejahteraan dan isi dompet para petani.

“Pengolahan pascapanen yang tepat sangat vital untuk mencegah penyusutan dan penurunan kualitas. Ini merupakan komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur agar hasil panen yang melimpah ini memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi peningkatan kesejahteraan keluarga petani kita,” jelas Dyah.