Sangatta News — Langit Sangatta dan sekitarnya kini tampak menyelimut suram. Kualitas udara di ibu kota Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tersebut meluncur bebas hingga masuk ke dalam kategori tidak sehat. Fenomena ini dipicu oleh maraknya titik panas (hotspot) kebakarang hutan dan lahan (karhutla) yang makin memuncak di penghujung musim kemarau, Kamis (17/9/2026).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengungkapkan bahwa Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) di wilayah Sangatta telah menyentuh angka 165. Angka ini menegaskan bahwa tingginya konsentrasi debu dan paparan asap pembakaran lahan sudah jauh melampaui ambang batas aman kesehatan lingkungan.

Berdasarkan hasil analisis pemantauan kualitas udara terbaru, parameter polutan berbahaya tercatat melonjak tajam:

  • Konsentrasi PM2.5: Mencapai 82,8 µg/m³ (mikrogram per meter kubik).
  • Konsentrasi PM10: Berada di angka 87,2 µg/m³.

Paparan mikro-partikel ini dinilai sangat membahayakan sistem pernapasan manusia jika dihirup dalam jangka panjang tanpa perlindungan yang memadai. Kondisi ini meningkatkan ancaman lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti balita, lanjut usia (lansia), serta warga dengan penyakit bawaan (komorbid).

“Kami meminta seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, membatasi kegiatan di luar ruangan, serta mengupayakan penggunaan masker N95 atau KN95 bagi yang terpaksa beraktivitas di luar rumah,” imbau dr. Yuwana Sri Kurniawati.

Menanggapi ancaman kabut asap yang kian membahayakan, Dinkes Kutim langsung bergerak cepat dengan menyiagakan seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes). Seluruh faskes diimbau bersiap menerima potensi lonjakan pasien ISPA maupun gangguan pernapasan lainnya.

Dinkes juga membuka opsi penambahan tenaga kesehatan di lapangan jika terjadi lonjakan kasus secara signifikan. Terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memetakan sebaran titik kebakaran lahan secara real-time.

Dinkes Kutim mengimbau warga yang mulai merasakan keluhan kesehatan—seperti batuk terus-menerus, sesak napas, hingga iritasi pada mata—untuk segera mendatangi faskes terdekat guna mendapatkan penanganan medis secepatnya.