Sangatta News – Mengemban peran ganda sebagai pencari nafkah tunggal sekaligus pengasuh utama dalam keluarga menempatkan kelompok Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) pada kerentanan tekanan psikologis yang tinggi. Menjawab realitas tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Seni Mengelola Emosi dalam Kesehatan Mental bagi PEKKA di Pelangi Room Hotel Royal Victoria Sangatta, Kamis (6/8/2026).
Sebanyak 55 peserta perwakilan komunitas PEKKA dari berbagai kecamatan di Kutim mengikuti pelatihan intensif selama dua hari ini untuk memperkuat fondasi psikologis dan kemandirian ekonomi mereka.
Kepala DPPPA Kutim, Idham Cholid, menegaskan bahwa kesehatan mental dan kemampuan regulasi emosi bukan sekadar urusan personal, melainkan fondasi utama yang menentukan keberhasilan pengasuhan anak, kelangsungan usaha mikro, hingga etika berinteraksi di ruang publik.
Idham menggarisbawahi dampak vital dari kestabilan emosi bagi perempuan kepala keluarga. Suasana rumah tangga yang stabil secara emosional mencegah tekanan psikologis pada anak, meningkatkan kepercayaan diri, dan mendukung prestasi belajar mereka.
Bagi anggota PEKKA yang memiliki usaha mandiri, kestabilan emosi berpengaruh langsung pada cara pelayanan pelanggan (customer service). Produk yang baik tidak akan maksimal tanpa komunikasi dan retorika yang ramah. Selain itu, pengendalian diri mencegah luapan emosi destruktif di ruang digital yang berpotensi merugikan rekam jejak digital maupun hubungan sosial warga.
“Kemampuan mengelola emosi menentukan bagaimana kita bersikap pada diri sendiri maupun lingkungan. Jangan sampai ilmu ini berhenti di ruangan ini, tapi harus ditularkan ke komunitas PEKKA tingkat RT dan desa agar tercipta sistem pendukung (support system) yang solid,” ujar Idham.
Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan (PKHP) DPPPA Kutim, Rosyidah, menambahkan bahwa Bimtek ini dirancang sebagai bentuk penguatan kelembagaan penyedia layanan bagi perempuan yang memikul beban ekonomi keluarga seorang diri.
Untuk memberikan intervensi yang terukur, DPPPA Kutim menghadirkan dua pakar lintas disiplin yakni Fufahanna (Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia/HIMPSI) yang memberikan terapi psikologis dan teknik manajemen stres klinis. Juga Gita Feliciana (Owner Gita Felix Planner & Certified Trainer BNSP-RI) yang membekali peserta dengan pengembangan potensi diri dan pemetaan peluang usaha.
Melalui penguatan kapasitas mental ini, Pemkab Kutim menargetkan kelompok PEKKA tidak hanya bertahan di tengah tekanan ekonomi, tetapi juga bertransformasi menjadi figur yang mandiri, produktif, dan berdaya saing tinggi dalam mengawal masa depan keluarga.


Tinggalkan Balasan