Sangatta News – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) mulai merombak peta jalan ekonomi daerah dengan mengawinkan ambisi kemandirian fiskal dan pelestarian alam. Langkah berani ini ditegaskan dalam Workshop Multi Pemangku Kepentingan bertajuk Strategi Peningkatan Pendapatan Daerah yang dibuka Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, di Pelangi Room Hotel Royal Victoria, Kamis (19/2/2026).
Forum ini menjadi titik balik bagi Kutim untuk mulai melepaskan ketergantungan pada sektor ekstraktif yang rentan terhadap isu lingkungan, menuju sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.
Dalam pidato pembukaannya, Mahyunadi menekankan bahwa peningkatan pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak boleh menjadi “biaya” atas kerusakan ekosistem. Kutim, sebagai lumbung energi Kalimantan Timur, kini didorong untuk mengadopsi tata kelola pendapatan yang modern dan “hijau”.
“Pembangunan lanskap berkelanjutan bukan sekadar wacana atau tren global, melainkan kebutuhan mendesak. Kita harus memastikan setiap kebijakan pendapatan tetap menjaga keseimbangan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi,” tegas Mahyunadi.
Mahyunadi mengidentifikasi beberapa mesin ekonomi baru yang siap diakselerasi yakni sektor pertanian dan perikanan dengan penguatan sektor agraris dan kekayaan pesisir. Selain itu juga transformasi tata kelola perkebunan yang ramah lingkungan serta pemanfaatan potensi alam sebagai daya tarik wisata dunia.
Selain menggali potensi baru, Pemkab Kutim juga berfokus pada efisiensi sistem internal. Mahyunadi mendorong sistem pemungutan pajak dan retribusi berbasis digital guna menciptakan transparansi dan akuntabilitas. Targetnya jelas: memperluas basis pendapatan tanpa membebani daya dukung lingkungan.
Sinergi lintas sektor dianggap sebagai kunci. Mahyunadi meminta seluruh OPD untuk membuang jauh-jauh ego sektoral. Ia ingin investasi yang masuk ke Kutim adalah investasi bertanggung jawab yang dipayungi oleh regulasi daerah yang kuat.
“Kita ingin pembangunan yang inklusif di mana semua pihak merasakan manfaatnya, dan pembangunan yang tangguh agar kita siap menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan kekayaan alam,” tambahnya.
Workshop ini menghadirkan berbagai ahli untuk membedah praktik terbaik (best practices) dari daerah lain yang sukses menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lanskap. Diskusi dinamis ini bertujuan untuk memperkuat regulasi lokal agar mendukung iklim usaha yang hijau.
Pemkab Kutim berharap forum ini melahirkan rumusan strategi aplikatif, bukan sekadar dokumen laporan. Dengan kapasitas fiskal yang kuat dan berkelanjutan, Kutai Timur optimis dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat hari ini tanpa mengorbankan masa depan generasi mendatang.


Tinggalkan Balasan