Sangatta News – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini tengah berakselerasi mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Lewat program strategis Optimalisasi Lahan (Oplah), Pemkab Kutim menargetkan perluasan lahan pertanian hingga mencapai 20.000 hektare.

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menegaskan komitmen daerah untuk terlibat langsung dalam misi besar ini. Hal tersebut disampaikan usai menggelar rapat koordinasi dengan Direktorat Irigasi Pertanian di Ruang Arau Setkab Kutim, Kamis (16/4/2026).

Meski target sudah dipatok, Mahyunadi tidak menampik adanya tantangan krusial di lapangan yakni rendahnya minat masyarakat untuk bertani padi. Banyak warga yang masih enggan turun ke sawah karena fasilitas pendukung yang dirasa belum memadai.

“Kami baru mengusulkan empat titik dari sepuluh yang diminta pusat. Namun, hambatan ini tidak boleh jadi alasan. Kita harus terus dorong agar masyarakat kembali melirik sektor pertanian sebagai potensi ekonomi yang tinggi,” ujar Mahyunadi.

Dalam pertemuan tersebut, Direktur Irigasi Pertanian, Liferdi Lukman, membawa perspektif yang menarik untuk menggoyang dominasi sawit di Kutim. Ia menyoroti kecenderungan warga yang lebih memilih sawit karena perawatannya dianggap lebih praktis.

Padahal, menurut Liferdi, data menunjukkan fakta sebaliknya. “Usaha tani padi sebenarnya tiga kali lebih menguntungkan daripada sawit. Fakta ini yang perlu kita sosialisasikan secara masif agar sudut pandang petani kita berubah,” tegas Liferdi.

Kutim dinilai memiliki modal kuat yang tidak dimiliki semua daerah: sumber air yang melimpah dan selalu tersedia. Liferdi memastikan bahwa pusat akan membantu memastikan distribusi air ini sampai ke lahan-lahan petani secara optimal.

“Kutim punya potensi air yang luar biasa. Sekarang tinggal bagaimana pengelolaannya agar bisa meningkatkan produksi secara berkelanjutan,” tambahnya.

Hadirnya tim Direktorat Irigasi ke Sangatta dianggap sebagai sinyal kuat bahwa Kutim siap bertransformasi menjadi sentra produksi beras. Dukungan infrastruktur irigasi diharapkan menjadi kunci utama untuk meyakinkan masyarakat bahwa bertani padi adalah pilihan profesi yang menjanjikan secara finansial.