Sangatta News – Upaya memperkuat identitas budaya sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif berbasis kerakyatan terus dipacu di Kabupaten Kutai Timur. Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, secara resmi menutup Pelatihan Tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Angkatan III di Sangatta, Rabu (12/8/2026). Penutupan ditandai dengan penyerahan sertifikat pelatihan kepada para perwakilan peserta.
Pelatihan intensif yang berlangsung selama 10 hari tersebut menggembleng 10 penenun pilihan yang berasal dari tiga kecamatan, yakni Kongbeng, Kaliorang, dan Sangatta Selatan.
Dalam arahannya di hadapan Ketua Dekranasda Kutim Siti Robiah dan jajaran dinas terkait, Bupati Ardiansyah menekankan pentingnya mengawinkan keterampilan menenun dengan kekayaan ornamen lokal. Salah satu poin krusial yang ia dorong adalah penguatan motif Wakaroros sebagai ciri khas wastra daerah.
“Motif Wakaroros memiliki nilai penting untuk terus dikembangkan sebagai ciri pembeda produk batik maupun tenun Kutai Timur. Wakaroros bukan sekadar ornamen tambahan, melainkan penanda identitas yang membuat publik langsung mengenali karya tersebut berasal dari Kutim,” ujar Ardiansyah.
Ia juga menegaskan bahwa potensi seni dan budaya tidak akan membuahkan hasil tanpa keberanian untuk mengeksekusinya secara nyata. “Kalau kita diam, tidak ada yang kita kerjakan, maka tidak ada hasil. Para penenun yang didominasi kaum perempuan ini adalah pilar penting: selain memelihara seni budaya, karya mereka menjadi sumber ekonomi baru bagi keluarga,” tambahnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, Nora Ramadhani, menjelaskan bahwa 10 peserta Angkatan III ini merupakan hasil penyaringan bertahap dari 30 peserta awal yang mengikuti pelatihan perdana pada Desember 2025. Seleksi ketat dilakukan untuk memastikan hanya penenun berdedikasi tinggi yang melaju ke tahap pemantapan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dekranasda Kutim, Siti Robiah, berharap para alumni pelatihan tidak berhenti pada skala produksi pribadi, melainkan mampu menularkan ilmu di wilayahnya masing-masing. Dekranasda bersama Disperindag Kutim terus mendorong untuk pengembangan motif tenun yang mengangkat ciri khas masing-masing kecamatan yang di padupadankan dengan identitas daerah.
Pengembangan tersebut diharapkan memperkaya motif wastra lokal, membuka peluang pasar, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus menjadikan tenun dan batik sebagai salah satu wajah budaya Kutai Timur yang dikenal lebih luas
“Saya berharap peserta Angkatan III dapat aktif berproduksi, menularkan ilmu kepada komunitas di wilayahnya, serta membentuk sentra industri tenun yang dapat berkembang menjadi bagian dari sentra budaya dan wisata,” ujarnya.


Tinggalkan Balasan