Sangatta News – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memacu akselerasi penyerapan tenaga kerja lokal melalui langkah konkret. Bertempat di UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Industri Mandiri, Bupati Ardiansyah Sulaiman secara resmi membuka Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Tahap I Tahun 2026, Senin (27/4/2026).
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Pemkab Kutim untuk mewujudkan target penciptaan 50.000 tenaga kerja sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di luar sektor pertambangan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distransnaker Kutim, Trisno, melaporkan bahwa minat masyarakat terhadap program ini sangat luar biasa. Tercatat sebanyak 558 pendaftar bersaing ketat, namun hanya 64 peserta terbaik yang berhasil lolos seleksi karena keterbatasan kuota.
“Antusiasme ini menunjukkan besarnya harapan masyarakat untuk meningkatkan skill. Ke-64 peserta ini akan mengikuti delapan paket pelatihan unggulan, mulai dari Digital Marketing, Operator Excavator, Perhotelan, hingga pembuatan roti dan kue,” jelas Trisno.
Pelatihan yang didanai melalui APBD ini akan berlangsung dengan durasi 26 hingga 43 hari, terhitung sejak 23 April hingga 1 Juni 2026. Guna menjamin kualitas, setiap peserta akan mengikuti uji kompetensi yang terintegrasi dengan sertifikasi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Mendorong Ekonomi Non-Tambang
Dalam arahannya, Bupati Ardiansyah Sulaiman menekankan bahwa BLK harus menjadi “dapur keterampilan” yang adaptif terhadap kebutuhan industri modern. Visi utamanya adalah mengurangi ketergantungan daerah terhadap sektor batubara dengan memperkuat sektor jasa dan UMKM.
Data menunjukkan tren positif pada sektor non-pertambangan di Kutim. Sektor jasa makanan, misalnya, mencatat pertumbuhan fantastis hingga 23 persen pada tahun 2025.
“Pelatihan ini tidak hanya berorientasi agar peserta menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi juga mendorong lahirnya wirausaha baru (job creator). Kami ingin lulusan BLK ini mampu melihat peluang di sektor pertanian, perkebunan, dan jasa yang terus tumbuh,” tambah Trisno.
Pemerintah daerah juga terus memperkuat komunikasi dengan pimpinan perusahaan di Kutim agar kurikulum pelatihan di BLK selaras dengan kebutuhan pasar kerja saat ini. Dengan sertifikat BNSP di tangan, tenaga kerja lokal diharapkan memiliki daya saing yang setara, bahkan lebih unggul dari tenaga kerja luar daerah.
Selain fokus pada teknis, panitia juga menekankan pentingnya aspek soft skill, seperti disiplin kerja dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di lingkungan kerja.
Acara pembukaan ini turut dihadiri oleh perwakilan Danlanal Sangatta, unsur perangkat daerah, serta jajaran pimpinan perusahaan yang diharapkan menjadi mitra penyerap para lulusan pelatihan ini nantinya.


Tinggalkan Balasan