Sangatta News — Langkah konkrit Pemerintah Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, dalam menekan angka tengkes (stunting) mendapat pengakuan di tingkat regional. Berbekal inovasi terintegrasi bertajuk Dapur Stunting, Desa Singa Gembara secara resmi ditunjuk mewakili Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pada ajang Penilaian Desa Berkinerja Baik dalam Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S) Tingkat Provinsi Kalimantan Timur tahun 2026.
Tahapan evaluasi dan presentasi dilaksanakan secara daring dari Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo Staper) Kutim pada Senin (24/8/2026). Dalam penilaian yang berlangsung selama 45 menit tersebut, delegasi Kutai Timur berhadapan langsung dengan tim penilai lintas sektor Kaltim yang terdiri dari unsur Bappeda, Dinas Kesehatan, TP PKK, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat, hingga DPMDes Provinsi Kaltim.
Sinergi lintas sektor di Kutim terlihat solid saat penilaian. Hadir memberi dukungan langsung di antaranya Ketua Tim Penggerak PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah, Kepala Dinas Kesehatan dr. Yuwana Sri Kurniawati, Plh Kepala DPPKB Yuriansyah, jajaran DPMDes Kutim, serta Kepala Desa Singa Gembara Hamriansi Kassa.
Inovasi Dapur Stunting menjadi primadona saat pemaparan materi. Program ini tidak sekadar bertumpu pada intervensi nutrisi formal, melainkan mengintegrasikan alokasi anggaran desa, peran aktif masyarakat, partisipasi Kader Pembangunan Manusia (KPM), hingga kepedulian swasta melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Efektivitas skema terintegrasi ini dibuktikan dengan tren penurunan kasus yang signifikan. Dalam kurun waktu enam bulan, prevalensi stunting di Desa Singa Gembara berhasil dipangkas secara terukur dari semula di atas 20 persen menjadi kisaran 16 persen.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat (Pamkesra) sekaligus Plt Kepala DPMDes Kutim, Trisno, memberikan apresiasi tinggi atas efektivitas metodologi yang diterapkan Singa Gembara.
“Penurunan stunting di Singa Gembara bukan sekadar retorika. Data menunjukkan hasilnya. Konsep yang dipresentasikan memiliki keunggulan tersendiri karena tidak mengandalkan satu program saja, melainkan mengintegrasikan seluruh sumber daya dalam satu strategi,” tegas Trisno.
Trisno juga menyoroti adanya praktik baik lain di lapangan yang menjadi nilai tambah, seperti pola jemput bola oleh pengurus RT untuk mengedukasi warga dan memfasilitasi akses pelayanan kesehatan. Melihat respons positif tim juri provinsi terhadap keaslian (orisinalitas) konsep Dapur Stunting, ia optimistis desa di pinggiran Sangatta ini berpeluang besar melenggang hingga penilaian tingkat nasional.
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Ketua TP PKK Kutim, Siti Robiah Ardiansyah. Menurutnya, ajang evaluasi berjenjang yang diinisiasi Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal ini menjadi pemicu semangat (booster) bagi 139 desa di Kutai Timur untuk semakin tertib dan transparan dalam pengelolaan data stunting melalui aplikasi e-Human Development Worker (eHDW).
Siti Robiah menekankan bahwa kunci keberhasilan program seperti Dapur Stunting terletak pada konsistensi para kader dan partisipasi publik di tingkat tapak.
“Dapur Stunting ini inisiatif yang sangat bagus dari desa. Namun yang paling penting dijaga adalah konsistensinya. Mengoperasikan Dapur Stunting butuh komitmen tenaga untuk menyiapkan, memasak, hingga mengantar makanan bergizi agar tepat sasaran,” ungkap Siti Robiah.
Ia juga mengapresiasi kontribusi perusahaan swasta yang ikut menyokong sarana prasarana Posyandu di wilayah sekitar. Menurutnya, kemitraan antara pemerintah desa, TP PKK, masyarakat, dan jajaran dunia usaha merupakan formula mutlak untuk melahirkan generasi masa depan Kutim yang berkualitas dan bebas stunting.
Sementara itu, Kepala Desa Singa Gembara, Hamriansi Kassa, menyambut hangat berbagai masukan dan catatan evaluasi dari tim penilai provinsi. Ia bertekad menjadikan momentum ini untuk semakin menyempurnakan penyampaian data administrasi serta memperkuat motivasi warga di lapangan.
“Evaluasi dari tim juri menjadi bahan perbaikan bagi kami untuk memperkuat keterlibatan masyarakat. Saya berharap seluruh ikhtiar dan kerja keras ini tidak hanya membawa nama harum Singa Gembara di tingkat nasional, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi kesehatan anak-anak kita,” ungkap Hamriansi.


Tinggalkan Balasan