Sangatta News — Gelanggang Sport Climbing Center Bukit Pelangi, Sangatta, riuh oleh gemuruh tepuk tangan dan helatan aksi adu ketangkasan. Sebanyak 222 atlet panjat tebing dari berbagai penjuru Indonesia sukses menaklukkan dinding panjat dalam ajang bergengsi National Climbing Series 3 Bupati Cup V Tahun 2026 yang berlangsung pada 10–14 Oktober 2026.

Penutupan kejuaraan skala nasional ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, pada Selasa malam (13/10/2026). Dalam sambutannya, Mahyunadi menyampaikan rasa bangga sekaligus apresiasi tinggi atas kepercayaan para atlet luar daerah yang hadir memadati Kutim.

“Terima kasih kepada seluruh atlet dan kontingen yang sudah bertanding dengan sportivitas tinggi. Kami berharap pengalaman bertanding di Sangatta memberikan kesan manis. Jangan ragu beri kami masukan dan evaluasi agar penyelenggaraan berikutnya bisa jauh lebih sempurna!” ujar Mahyunadi disambut tepuk tangan riuh para peserta.

Di luar raihan medali dan ketatnya persaingan papan atas, hal yang paling mencuri perhatian sekaligus menggetarkan hati Wakil Bupati adalah meledaknya antusiasme anak-anak usia dini di Sangatta yang memadati arena Sport Climbing Center.

Melihat anak-anak kecil dengan gigih mengikatkan tali harness dan berusaha memanjat tebing buatan tanpa rasa takut, Mahyunadi tak sanggup menyembunyikan rasa harunya.

“Saya sangat terharu melihat semangat anak-anak kita. Mereka tidak takut ketinggian, matanya berbinar menatap puncak dinding panjat. Potensi alamiah dan keberanian anak-anak ini adalah aset emas yang tidak boleh kita sia-siakan,” ungkapnya emosional.

Melihat besarnya gairah generasi muda terhadap cabang olahraga panjat tebing, Mahyunadi langsung menginstruksikan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutim, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kutim di bawah kepemimpinan Aji Fahriza Hakim, Dinas Pemuda dan Olahraga, hingga para camat untuk bergerak cepat.

Ia menegaskan bahwa melahirkan atlet kelas dunia tidak bisa hanya mengandalkan ajang seremonial tahunan belakangan. Sistem rekrutmen dan seleksi bibit atlet di tingkat kecamatan harus dilakukan secara terbuka dan merata. Selain itu penyediaan pelatih berkualitas dan fasilitas latihan berkala agar potensi atlet muda terasah secara terstruktur.

“Kejuaraan adalah panggungnya, tapi kuncinya ada pada pembinaan harian. Jika ekosistem ini kita rawat bersama, saya optimistis atlet-atlet panjat tebing asal Kutai Timur kelak tidak hanya mengibarkan bendera daerah di tingkat provinsi dan nasional, tetapi juga membawa nama Indonesia di kancah olimpiade internasional,” tambah Mahyunadi.