Sangatta News — Komoditas nanas dari Desa Himba Lestari, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), kini dilirik menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi daerah. Tak sekadar dijual sebagai buah segar, potensi panen di atas lahan seluas 80 hektare ini siap ditransformasikan menjadi produk industri bernilai tinggi—termasuk pengolahan serat daun nanas sebagai bahan baku tekstil ramah lingkungan.
Gebrakan hilirisasi ini ditandai dengan kunjungan lapangan jajaran perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Timur bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim ke sentra produksi nanas Himba Lestari.
Kepala Disperindag Kutim melalui Kepala Bidang Industri, Achmad Dony Erviady, mengonfirmasi bahwa peninjauan langsung bersama empat perwakilan OJK Kaltim tersebut menjadi titik awal penjajakan investasi dan kemitraan pembiayaan sektor hortikultura.
“Turunan dari komoditas nanas (Ananas comosus) ini sangat luar biasa banyak. Jangan sampai hasilnya berhenti pada penjualan buah segar semata. Kami mendorong pemanfaatan serat daun nanas yang selama ini terbuang untuk diolah menjadi bahan baku industri tekstil. Nilai tambah inilah yang akan mendongkrak tingkat kesejahteraan petani secara signifikan,” terang Dony.
Dony menambahkan bahwa perwakilan OJK memberikan respons sangat positif setelah mencicipi langsung nanas Himba Lestari yang memiliki keunggulan rasio kemanisan alami yang khas.
Menindaklanjuti potensi besar tersebut, OJK dijadwalkan segera menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan kementerian/lembaga terkait, Pemkab Kutim, serta investor potensial untuk mempercepat ekosistem industri hortikultura di Batu Ampar.
Dukungan konkret juga ditunjukkan oleh Pemerintah Kecamatan Batu Ampar yang telah menyiapkan lahan seluas 1,5 hektare yang diproyeksikan sebagai Rumah Produksi Bersama (RPB).
“Sebagai langkah awal yang terukur, kami segera menyusun kajian akademis komprehensif bekerja sama dengan pihak universitas. Kajian ini mencakup tata kelola produksi, kebutuhan mesin, fasilitas pengolahan, hingga pemetaan rantai pasok pasar. Kami ingin menjaga semangat para petani agar komoditas kebanggaan Kutim ini naik kelas dan berdaya saing tinggi,” tegas Dony.


Tinggalkan Balasan