Sangatta News — Kekayaan Kutai Timur tidak hanya tertanam di dalam perut buminya, tetapi juga memancar dari keragaman seni dan budayanya. Menyadari potensi besar tersebut, Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, mendorong penguatan tata kelola lembaga kesenian tradisional agar mampu menjadi benteng pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi daerah.
Pesan tersebut disampaikan Mahyunadi saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Tata Kelola Lembaga Kesenian Tradisional, Pelatih Seni Tarsul, dan Pelatih Seni Teater di Hotel Zenova Royale Sangatta, Kamis (10/9/2026).
Di hadapan para pelaku seni dan tenaga pendidik, Mahyunadi menekankan bahwa seni tradisional tidak boleh lapuk dimakan zaman. Agar tetap relevan dan diminati generasi muda, kesenian lokal seperti Seni Tarsul dan teater daerah perlu dikemas secara kreatif melalui pendekatan modern tanpa merusak pilar kearifan lokalnya.
“Kita harus mampu mengembangkan budaya dengan tetap mempertahankan kearifan lokal, tetapi juga mengikuti kebutuhan dan perkembangan zaman. Kesenian harus memberi dampak positif dan menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia,” tegas Mahyunadi.
Menurutnya, jika dikelola secara profesional, kekayaan seni budaya lokal sanggup menjadi magnet pariwisata yang mendatangkan wisatawan—berdampingan dengan destinasi alam dan wisata religi—yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal.
Agenda pelatihan yang berlangsung selama tiga hari (10–12 September 2026) ini diinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim dengan menggaet 48 peserta dari kalangan penggiat seni dan guru sekolah.
Mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mulyono, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, menjelaskan bahwa Bimtek ini mendatangkan pakar kebudayaan kawakan—Lestari dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltim serta Hamdani dari Dewan Kesenian Daerah Kaltim.
“Kita ingin lembaga-lembaga kesenian memiliki tata kelola yang baik sehingga lebih siap mengakses berbagai sumber dukungan dan program pembinaan di masa depan,” terang Ilham.
Melalui sinergi ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berharap hasil pelatihan tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan menjelmakan program nyata di sanggar-sanggar seni dan kurikulum sekolah demi mencetak generasi penerus yang bangga akan identitas budayanya.


Tinggalkan Balasan