Sangatta News — Langkah besar transformasi ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi dimulai dari Dusun Sekurau Bawah, Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bersama Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menghadiri pemancangan batu pertama (groundbreaking) pembangunan fasilitas pemrosesan gasifikasi batu bara menjadi metanol di kawasan PT BCIP pada Senin (31/8/2026).

Proyek raksasa yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) ini digadang-gadang menjadi game changer peta industri tambang nasional. Tak sekadar mengeruk emas hitam mentah, fasilitas kilang canggih ini ditargetkan menyemburkan 2 juta ton metanol per tahun pada tahap awal operasionalnya (commissioning) yang dijadwalkan meluncur pada 2029.

Bupati Ardiansyah Sulaiman menyambut optimistis kehadiran industri pengolahan hilir ini sebagai amunisi segar untuk mendongkrak struktur ekonomi Kutim sekaligus menjadi benteng pencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Kondisi perekonomian global dan tantangan ketenagakerjaan harus diantisipasi dengan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Dengan berjalannya proyek hilirisasi ini, kami sangat optimistis pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur akan semakin melonjak masif,” ujar Ardiansyah mantap.

Pengembangan kilang gasifikasi batu bara ini diproyeksikan memberi dampak multiplier (multiplier effect) luar biasa bagi kesejahteraan warga lokal. Selain menyerap ribuan tenaga kerja, proyek ini juga memicu munculnya ekosistem bisnis pendukung di kawasan pesisir Bengalon.

Tahapan & Efek Proyek Hilirisasi Estimasi Capaian & Dampak Ekonomi
Target Operasional (Commissioning) Tahun 2029
Kapasitas Produksi Awal 2 Juta Ton Metanol per tahun (plus produk sampingan)
Perekrutan Masa Konstruksi Menyerap 2.000 Tenaga Kerja
Kebutuhan Karyawan Tetap Menyerap 700 Tenaga Kerja operasional

Bupati menegaskan Pemkab Kutim dan Pemprov Kaltim siap pasang badan memberikan pengawalan penuh dan karpet merah bagi kelancaran investasi pusat ini.

“Pemerintah Kabupaten Kutai Timur siap mendukung penuh dan menyambut suksesnya Program Strategis Nasional yang telah direncanakan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia,” tegasnya.

Era Baru Tambang Rendah Emisi

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung memaparkan bahwa era menjual batu bara mentah (raw coal) secara “ugal-ugalan” sudah saatnya ditinggalkan. Hilirisasi batu bara menjadi metanol merupakan komitmen pemerintah pusat untuk melipatgandakan nilai tambah komoditas tambang Indonesia di mata dunia.

Pemanfaatan teknologi gasifikasi ini diklaim tak hanya mendatangkan nilai ekonomis berlipat, tetapi juga mengusung skema industri hijau beremisi rendah (low emission).

“Batu bara tidak boleh lagi hanya dijual murah sebagai bahan mentah. Melalui teknologi gasifikasi, kita ubah menjadi metanol bernilai ekonomi tinggi sekaligus mendorong efisiensi pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan,” jelas Wamen ESDM Yuliot.

Acara groundbreaking bernilai strategis ini turut disaksikan oleh Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, Kapolres Kutim AKBP Aryansyah, Dandim 0909/Kutim Letkol Czi Zaenal Abidin, serta jajaran manajemen perusahaan dan tokoh masyarakat setempat.