Sangatta News — Halaman Kantor Bupati Kutai Timur di kawasan Bukit Pelangi memutih sejak pukul 06.00 WITA pada Rabu (9/9/2026). Ribuan warga dari berbagai lapisan—mulai dari pejabat daerah, tokoh agama, aparatur sipil negara (ASN), pelajar, hingga masyarakat umum—berkumpul dengan satu tekad dan harapan yang sama: bersimpuh memohon ampunan sekaligus menengadahkan tangan meminta rahmat turunnya hujan di bumi Kutai Timur yang tengah dilanda kekeringan panjang.
Hadir di tengah-tengah ribuan jamaah, Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi melaksanakannya bersama Ketua DPRD Jummi, jajaran Forkopimda, serta pimpinan instansi vertikal. Suasana khusyuk dan haru menyelimuti seluruh rangkaian ibadah, mencerminkan kepasrahan mendalam warga atas fenomena kemarau yang berdampak pada krisis air bersih dan ancaman kebakaran lahan.
Dalam perenungannya, Mahyunadi menegaskan bahwa Salat Istisqa bukan sekadar ritual keagamaan rutin. Momen ini menjadi tamparan sekaligus pengingat atas keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta.
“Betapapun tingginya ilmu pengetahuan, canggihnya teknologi, atau besarnya kekuasaan dan anggaran yang kita miliki untuk membangun berbagai fasilitas, kita tetap tidak punya kuasa sedikit pun untuk meneteskan satu titik air hujan dari langit. Salat Istisqa ini adalah wujud kerendahan hati kita di hadapan Allah SWT, sekaligus ikhtiar bersama memohon ampunan dan rahmat-Nya,” tegas Mahyunadi.
Meski tanda-tanda mendung dan curahan hujan tipis sempat terlihat di beberapa titik dalam beberapa hari terakhir, kepasrahan total dan permohonan ampun dinilai menjadi pintu utama agar keberkahan air hujan dapat kembali membasahi seluruh pelosok Kutai Timur.
Selain sebagai sarana pendekatan diri secara spiritual, ujian kekeringan ini juga diharapkan menjadi pemicu kesadaran kolektif warga Kutim dalam memperlakukan alam secara lebih bijak. Warga diimbau menghemat dan menjaga ketersediaan air bersih di tengah ancaman kemarau panjang.
Selain itu warga dapat meningkatkan kepedulian bersama untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Doa bersama menjadi ikatan janji untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup di masa mendatang.
Rangkaian ibadah ditutup dengan lantunan doa bersama yang menggelegar di atas puncak Bukit Pelangi. Seluruh jamaah melarutkan asa, berharap langit Kutai Timur segera dipenuhi awan rahmat yang membawa berkah kebaikan bagi seluruh warga.


Tinggalkan Balasan